(0274) 513 301, 515 352. Ext. 1513
publisher@usd.ac.id

Peneroka Hakikat Bahasa

by P. Ari Subagyo - ISBN: 978-979-1088-48-0
Ketersediaan:
Tersedia
Jika sebuah kolom bahasa dalam sebuah surat kabar memberikan gelar ‘munsyi’ pada para penulisnya, buku ini memberikan gelar ‘peneroka’ untuk sosok yang disebut dalam judul: Sudaryanto.
Lain ladang tentu lain belalang. Jika seorang pesohor terkenal di dunia hiburan, Sudaryanto malang-melintang di jagad linguistik di Indonesia, atau yang dalam istilah Sudaryanto sendiri disebut rimba persilatan linguistik. Kepakaran Sudaryanto dalam Linguistik pun tak perlu dipertanyakan lagi. Siapa pun yang mempelajari Linguistik (di) Indonesia mau tak mau harus bersinggungan dengan karya-karyanya yang dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran orisinal dan segar. Keseriusannya dalam Linguistik juga membuatnya lebih berkonsentrasi pada penulisan dan pengembangan metode linguistik untuk semakin memantapkan dan merapikan kegiatan penelitian linguistik.
Lalu, apa arti kemunculan buku yang berani menyebut Sudaryanto peneroka hakikat bahasa? Sebut saja buku ini hadiah, sebuah muhibah (ungkapan rasa persahabatan dan kasih) dari orang-orang yang paling tidak pernah merasakan kepakaran linguistik Sudaryanto, sang peneroka: ‘pembuka daerah atau tanah baru; pembuka jalan; perintis’, yang mengabdikan dirinya pada rimba persilatan linguistik. Bukankah perayaan ulang tahun ke-65 dan perayaan 30 tahun menjadi doktor linguistik memang membutuhkan hadiah khusus? Dalam beberapa karyanya, Sudaryanto kerap menulis, “Orang yang dapat memberi hanyalah orang yang memiliki. Bila seorang linguis tidak memiliki pengetahuan yang meyakinkan mengenai bahasa, lalu apa yang dapat diberikannya kepada ilmuwan lain?” Dari sudut pandang ini, Sudaryanto bisa dikatakan sudah ‘memberi’. Seandainya ada yang ingin membantah pemikiran ini, kumpulan karangan dari para ‘sahabatnya’ yang ‘dilebur’ dalam sebuah buku ini bisa diajukan sebagai bukti nyata ‘pencerahan’ dari Sudaryanto.
Buku ini terdiri dari empat bagian, yaitu ‘Struktur Bahasa’, ‘Konteks Bahasa’, ‘Pengembangan Bahasa’, dan ‘Bahasa dan Kebudayaan’. Kemunculan karangan struktur bahasa di bagian awal menjadi sebuah pembuka untuk mulai ‘mengintip’ Sudaryanto. Sudaryanto memang berkutat pada metode linguistik dan tipografi bahasa. Artinya, gagasan Saussure yang melahirkan tradisi struktural-sinkronis akan sangat mempengaruhinya. Sedangkan kemunculan bagian kedua, ketiga, dan keempat merupakan sebuah perayaan pada tiga dimensi kemanusiaan yang dimiliki oleh bahasa, yaitu bahasa merupakan buah evolusi manusia, buah evolusi raga, dan buah evolusi peradaban manusia. Bahasa memang tidak melulu persoalan struktur, tetapi juga konteks situasional, politik, dan kebudayaan. Dengan kata lain, ketiga bagian tersebut menampilkan tulisan-tulisan yang melampaui struktur bahasa.
Jika struktur boleh diterapkan dalam buku ini, karangan-karangan dari para kontributor akan menjadi unsur. Karena ada banyak karangan dalam buku ini, kesabaran khusus sangat diperlukan ketika mengintip unsur-unsur yang ada. Persiapan yang matang tentu diperlukan untuk menghadapi transisi antarunsur dan antarbagian agar pikiran tidak menjadi ruwet. Bayangkan saja, jika sehabis bertungkus-lumus dengan penjelasan tentang kata terhadap dan sintaksis nomina tindakan, pembacaan lalu beralih pada lirik dari keroncong ke dangdut yang ditutup dengan kalimat “Ntar lu SMS gue, ya” dan “Lagi jablai nih. Suami pergi!” Tak berhenti di sini, konteks dalam pragmatik rupanya dipadatkan dalam satu karangan. Untuk hal ini, persiapan perlu digenjot lebih kencang karena gempuran pemikiran dari banyak pakar diuraikan satu-per-satu. Pengembangan bahasa pun mencatatkan semacam uneg-uneg, perenungan, teror, dan keprihatinan. Bayangkan saja, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV ternyata salah menuliskan tanggal untuk Hari Kesaktian Pancasila (yang seharusnya 1 Oktober tertulis 1 Juli). Bukankah ini malapetaka? Jangan kaget jika dalam karangan muhibah ini justru memunculkan deskripsi mengenai orang lain, bukan Sudaryanto. Jangan pula kaget jika konsepsi mengenai ‘satu bahasa’ bukan ‘menjunjung bahasa persatuan’ masih menjangkiti manusia Indonesia.
Jika boleh memberi saran, buku ini sebaiknya dibaca pada pukul 19.00, yaitu pada saat jam belajar masyarakat. Daripada nonton sinetron yang tak bermutu, bukankah lebih baik ‘mengintip’ Sudaryanto.
Rp. 56,000 Rp. 70,000
Jumlah:
Penerbit Penerbit USD
Perkiraan Berat 100 gram
Tahun Terbit 2009
Halaman 374
Kategori Humaniora